Minggu, 23 Oktober 2011

SAHAM

PENGERTIAN SAHAM DAN JENIS-JENIS SAHAM


Saham atau ekuitas adalah surat berharga yang sudah dikenal masyarakat. Saham didefinisikan sebagai tanda penyertaan modal atau kepemilikan seseorang atau badan dalam suatu perusahaan atau perusahaan terbatas.
Wujud saham berupa selembar kertas yang menerangkan siapa pemiliknya. Akan tetapi, sekarang ini sistem tanpa warkat sudah dilakukan di pasar modal dimana bentuk kepemilikan tidak lagi berupa lembaran saham yang diberi nama pemiliknya tapi sudah berupa account atas nama pemilik atau saham tanpa warkat.
Atau saham merupakan satuan nilai atau pembukuan dalam berbagai instrumen finansial yang mengacu pada bagian kepemilikan sebuah perusahaan. Dengan menerbitkan saham, memungkinkan perusahaan-perusahaan yang membutuhkan pendanaan jangka panjang untuk 'menjual' kepentingan dalam bisnis - saham (efek ekuitas) - dengan imbalan uang tunai. Ini adalah metode utama untuk meningkatkan modal bisnis selain menerbitkan obligasi. Saham dijual melalui pasar primer (primary market) atau pasar sekunder

Jenis – jenis saham ada 2 macam yaitu :
1.      Saham Biasa (common stock), adalah saham yang menempatkan pemiliknya paling junior atau akhir terhadap pembagian dividen dan hak atas kekayaan perusahaan apabila perusahaan tersebut dilikuidasi. Ciri yang lain dari saham ini adalah dividen dibayarkan selama perusahaan memperoleh laba. Setiap pemlik saham memiliki hak suara dalam rapat umum pemegang saham (RUPS). Pemegang saham biasa memiliki tanggung jawab terbatas terhadap klaim pihak lain sebesar proporsi sahamnya dan memiliki hak untuk mengalihkan kepemilikan sahamnya kepada pihak lain.
2.    Saham Preferen, saham preferen merupakan saham yang memiliki karakteristik gabungan antara obligasi dan saham biasa, karena menghasilkan pendapatan tetap. Saham ini lebih aman dibandingkan dengan saham biasa karena memiliki hak klaim terhadap kekayaan perusahaan dan pembagian dividen terlebih dahulu. Saham preferen sulit diperjualbelikan seperti saham biasa karena jumlahnya yang sedikit.

Minggu, 16 Oktober 2011

Makalah Bencana Alam

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.       Latar Belakang
            Terjadinya berbagai bencana yang di negeri ini selalu menyisakan duka bagi rakyat. Meski banyak retorika dibangun untuk mengatasi hal ini, baik pada masa Orde Baru maupun pada masa Orde Reformasi. Namun, seringkali tidak diikuti dengan tindakan dan kebijakan nyata. Peningkatan bencana terus terjadi dari tahun ke tahun. Bahkan, sejak tahun 1988 sampai pertengahan 2007 jumlah bencana di Indonesia mencapai 647 bencana alam meliputi banjir, longsor, gempa bumi, dan angin topan, dengan jumlah korban jiwa sebanyak 2022 dan jumlah kerugian mencapai ratusan miliar. Jumlah tersebut belum termasuk bencana yang terjadi pertengahan tahun 2006 sampai pertengahan 2007 yang mencapai ratusan bencana dan mengakibatkan hampir 1000 korban jiwa.
Bencana struktural, bencana alam maupun bencana kemanusiaan terus terjadi. Dalam tahun 2002 tercatat bencana besar terjadi adalah langganan kebakaran hutan di Pontianak, Jambi, Palembang, banjir di Jakarta, Jawa Tengah, Semarang, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur dan beberapa lokasi lainnya.
                   Fenomena banjir bandang dan tanah longsor adalah suatu fenomena alam yang jamak di muka bumi ini. Secara umum, ketika sebuah sistem aliran sungai yang memiliki tingkat kemiringan (gradien) sungai yang relatif tinggi (lebih dari 30% atau lebih dari 27 derajat) apabila di bagian hulunya terjadi hujan yang cukup lebat, maka potensi terjadinya banjir bandang relatif tinggi. Tingkat kemiringan
sungai yang relatif curam ini dapat dikatakan sebagai faktor “bakat” atau bawaan. Sedangkan curah hujan adalah salah satu faktor pemicu saja.

1.2.       Tujuan
Terjadinya berbagai macam bentuk bencana alam yang di Indonesia membuat rakyat Indonesia prihatin dengan keadaan saat ini, tujuan daripada itu adalah semata-mata untuk upaya menanggulangi dan kewaspadaan terhadap bencana yang datang pada waktu-waktu tertentu. Maka dengan adanya Karya Tulis ini diharapkan dapat memberikan inspirasi dan kesadaran bagi pembaca sekalian. Serta sebagai bahan pertimbangan dan uji kreatifitas dalam pembelajaran B.Indonesia. Sehingga dapat lebih peduli dengan lingkungan alam sekitar.

1.3.       Ruang Lingkup
Dalam karya tulis ini penulis hanya membatasi permasalahan pada Wilayah Indonesia dan Bencana Alam yang terjadi. Hal ini dikarenakan keterbatasan waktu, tempat dan dana.

1.4.       Pembatasan Masalah
Dari latar belakang permasalahan di atas maka penulis hanya dapat membatasi masalah yang perlu ditanggulangi sebagai berikut :
          1. Mengapa bencana terus terjadi di Indonesia ?
 2. Bagaimana cara untuk menanggulangi dampak pencemaran tanah yang sedang  terjadi ?.
3. Bencana apa saja yang sering terjadi di Indonesia ?
4. Kapan bencana alam itu terjadi ?
5.. Berapa banyak korban yang terkait dalam bencana alam tersebut  ?.

BAB II
     PEMBAHASAN

2.1.  Landasan Teori
 Pemahaman ini berhubungan dengan pernyataan: "bencana muncul bila ancaman bahaya bertemu dengan ketidakberdayaan". Dengan demikian, aktivitas alam yang berbahaya tidak akan menjadi bencana alam di daerah tanpa ketidakberdayaan manusia, misalnya gempa bumi di wilayah tak berpenghuni.
          Konsekuensinya, pemakaian istilah "alam" juga ditentang karena peristiwa tersebut bukan hanya bahaya atau malapetaka tanpa keterlibatan manusia. Besarnya potensi kerugian juga tergantung pada bentuk bahayanya sendiri, mulai dari kebakaran, yang mengancam bangunan individual, sampai peristiwa tubrukan meteor besar yang berpotensi mengakhiri peradaban umat manusia.
          Namun demikian pada daerah yang memiliki tingkat bahaya tinggi (hazard) serta memiliki kerentanan/kerawanan (vulnerability) yang juga tinggi tidak akan memberi dampak yang hebat/luas jika manusia yang berada disana memiliki ketahanan terhadap bencana (disaster resilience).   

     Konsep ketahanan bencana merupakan valuasi kemampuan sistem dan infrastruktur-infrastruktur untuk mendeteksi, mencegah & menangani tantangan-tantangan serius yang hadir. Dengan demikian meskipun daerah tersebut rawan bencana dengan jumlah penduduk yang besar jika diimbangi dengan ketetahanan terhadap bencana yang cukup.

2.2.      Uraian Materi
Solusi bagi bencana yang terjadi di Indonesia dikembangkan dari jenis bencana yang terjadi. Di akhir tahun 2006 hingga awal tahun 2007 ini bencana yang terjadi sebagian besar disebabkan karena kelalaian manusia, bukan ketidaksengajaan atau karena faktor alam seperti tsunami yang terjadi di Aceh pada beberapa tahun silam. Secara garis besar, bencana yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini terjadi akibat kurangnya perawatan yang diberikan pada alat-alat transportasi (1) dan kelalaian dalam memperhatikan kesinambungan alam (2).
Dalam bencana alam seperti banjir atau tanah longsor, selain mengembangkan wacana berikut kerja dan antisipasi bencana terkait pelestarian alam, amdal dan penanganan sampah, pemerintah perlu memaksimalisasi potensi ahli-ahli ilmu meteorologi (cuaca), ekologi (lingkungan) dan planologi (tata kota). Ada ramalan yang menyebutkan bahwa pemanasan global akan meninggi hingga beberapa tahun mendatang. Hal ini nyata dan tertuang dalam geliat alam yang berupa gelombang panas dan hujan lebat yang akan kian sering turun.
Ketiga ilmu ini, yang sangat erat hubungannya dengan alam, menjadi tantangan tersendiri bagi ahli dan peminat di dalamnya untuk dapat menampilkannya sebagai peminimal bahkan penangkal bencana. Perlu ada apresiasi yang diberikan pemerintah untuk meningkatkan keseriusan para ahli ilmu-ilmu ini untuk belajar, bereksperimen, dan bahkan menimba ilmu dari negera-negara lain dalam menangani bencana.
2.2.1.   Bencana di Indonesia
Sejak tahun 1998 hingga pertengahan 2007, tercatat telah terjadi 647 kejadian bencana di Indonesia, di mana 85% dari bencana tersebut merupakan bencana banjir dan longsor.
Bencana Alam di Indonesia (1998-2007)
Jenis
Jumlah Kejadian
Korban Jiwa
Kerugian (juta rupiah)
Banjir
302
1066
191.312
Longsor
245
645
13.928
Gempa bumi
38
306
100.000
Gunung berapi
16
2
n.a
Angin topan
46
3
4.015
Jumlah
647
2022



Sumber : Bakornas PB.

Presentase tersebut berarti bahwa bencana terbesar yang terjadi justru bencana yang bisa diatasi, diantisipasi kejadian dan resikonya. Bencana banjir dan tanah longsor adalah bencana yang terjadi bukan hanya karena faktor alamiah alam, namun lebih banyak karena campur tangan manusia. Bencana banjir dan tanah longsor merupakan bencana yang “bisa direncanakan”.
Dalam kurun waktu 2007, terhitung bulan Januari 2007 sampai dengan November 2007, bencana kembali terjadi dengan intensitas yang sangat tinggi. Bencana-bencana besar, seperti banjir, tanah longsor, kebakaran hutan, dan kekeringan lebih banyak disebabkan oleh salah kelola lingkungan hidup.

2.2.2.                       Jenis-jenis Bencana di Indonesia
      a. Banjir dan Tanah Longsor
1.     Bencana di Bukit Lawang, Kecamatan Bohorok, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara


Bencana lingkungan besar kembali melanda kawasan Bahorok-Langkat, Sumatera Utara. Peristiwa tragis ini terjadi pada Senin, 3 November 2003. Air bah yang datangnya dari hulu DAS (Daerah Aliran Sungai) Bahorok telah memakan korban jiwa. Teridentifikasi korban yang meninggal 92 orang tewas dan 154 orang hilang. Menurut saksi mata, dari kejadian di lokasi Bahorok diperkirakan korban akan bertambah sampai ratusan orang. Karena sejumlah warga saat ini diidentifikasi telah hilang.
Menurut saksi mata, masyarakat yang tidak mau disebutkan namanya di lokasi kejadian mengatakan bahwa potongan-potongan kayu tersebut berasal dari perambahan kayu liar yang dilakukan di dalam TNGL (Taman Nasional Gunung Leuser) wilayah Bahorok - Langkat dan sebagiannya di sekitar kawasan hutan Lawe Pakam – Kutacane, Aceh Tenggara.
Sungai Bohorok yang mengalir melalui Desa Bukit Lawang merupakan bagian dari DAS Sei Wampu. Kerusakan hutan di sub DAS Bohorok merupakan penyebab utama terjadinya banjir bandang tersebut. Penebangan yang diikuti dengan tanah longsor pada akhirnya menjadi ‘senjata pemusnah massal’ (weapon mass destruction) yang sangat mengerikan.
Sementara itu, di wilayah Aceh Tenggara telah berulangkali terjadi perusakan kawasan hutan melalui kegiatan illegal logging oleh Para Pemegang IPK dan HGU yang tetap diberikan ijin meskipun letaknya bersebelahan dengan Taman Nasional Gunung Leuser. Akibat moral buruk pemegang ijin, perambahan hutan sengaja mencaplok TNGL. Selain itu, pembangunan infrastruktur jalan jalur pendukung Ladia Galaska antara lain pada ruas jalan Muara Situlen-Gelombang (Aceh Singkil berbatasan dengan Sumatera Utara) hingga akan menembus Bukit Lawang dan ruas Jalan Titi Pasir (Lawe Pakam)-Bahorok (Aceh Tenggara-Langkat). Meskipun dalam rencana Ladia Galaska sang pemrakarsa (Pemda Provinsi NAD dan Menkimpraswil RI) menyatakan menunda pembangunan ruas jalan tersebut. Namun, pada tahun anggaran 2002 lalu telah mulai dikerjakan. Jalan Ladia Galaska telah dan akan menjadi jalan akses bagi kehancuran lebih lanjut Kawasan Ekosistem Leuser.

2.   Longsor di Garut


Awal Januari 2003 bencana Longsor terjadi Mandalawangi di Garut. Bencana tersebut menewaskan tidak kurang dari 15 orang dan puluhan rumah rusak berat. Longsor terjadi karena rusaknya hutan sebagai wilayah penyangga. Tahun 1990 luas hutan di Jabar mencapai 791.519 hektar atau sekitar 22% dari seluruh luas Jabar, jumlah tersebut menyusut drastis hingga 323.802 hektar tahun 2002 atau sama 9 % dari luas keseluruhan daratan di Prov. Jabar yang 3.555.502 hektar. Jumlah tersebut diperkirakan terus bertambah, dan Jabar terus akan rawan terhadap bencana banjir dan tanah longsor.

b.    Kebakaran Hutan


Kebakaran hutan terbesar tahun ini terjadi di Palangkaraya. Bancana ini mengakibatkan bandara tertutup asap, dan kota Palangkaraya gelap tertutup asap pada siang hari. Ketika bencana terjadi dua hari anak-anak sekolah dasar di palangkaraya diliburkan untuk menghindari asap. Bencana kebakaran hutan juga terjadi di Riau, Jambi, dan Lampung. Kerugian terjadi bukan hanya hilangnya hutan ratusan hektar, namun juga penyakit ISPA, macetnya roda perekonomian serta transportasi.

c.     Kekeringan


Musim kemarau ini hampir seluruh Pulau jawa dilanda kekeringan. Wonogiri adalah salah satu daerah terparah. Daerah ini dari tahun ke tahun mengalami bencana kekeringan. Dampak yang terjadi bukan hanya rawan pangan karena tidak adanya panen, namun krisis air bersih kemudian juga melanda berbagai wilayah yang mengalami kekeringan. Untuk mengatasi kekeringan Bupati Wonogiri meminta kepada pemerintah pusat untuk menyediakan pengadaan 100 unit sumur pantek dan bantuan 77 unit pompa air. Untuk mengatasi penyediaan air bersih meminta proyek rehabilitasi embung rakyat senilai Rp. 231,4 miliar. Dan untuk rehabilitasi hutan diperkirakan dana mencapai Rp. 223, 9 miliar.

2.2.3.                  Asuransi Harus Dilibatkan Dalam Mitigasi Bencana


      Industri asuransi meminta untuk dipertimbangkan dalam pembahasan mitigasi bencana, belajar dari berbagai bencana alam yang terjadi belakangan ini di Indonesia seperti yang terakhir yaitu gempa bumi di Padang.
          Menurut FPAI, asuransi harus mampu membantu masyarakat dan pemerintah untuk mampu mengatasi segala permasalahan melalui manajemen risiko. "Bukan hanya sebagai pengumpul kekayaan tetapi jangan meninggalkan fungsi untuk memitigasi risiko," jelasnya.
          Wakil Ketua Panitia Indonesia Insurance Day Julian Noor mengatakan pasalnya, generasi muda dinilai pasar potensial untuk menggunakan jasa asuransi di masa yang akan datang. "Dengan sasaran mahasiswa dan pelajar, dapat menanamkan kesadaran berasuransi sejak dini, sehingga mereka mengerti nanti," ujarnya.

BAB III
PENUTUP

3.1.        Kesimpulan
Dari berbagai fakta yang ada jelas terlihat bahwa bencana besar yang terjadi tidak serta merta datang, namun didahului oleh adanya eksploitasi lingkungan, adanya kebijakan yang tidak memenuhi aspirasi masyarakat, serta tidak adanya manajemen bencana dari pemerintah.
Bencana-bencana tersebut seharusnya tidak perlu terjadi dan bisa diminimalisir oleh pemerintah seandainya pemerintah berbesar hati untuk tidak mencampakkan alam dengan dalih kebijakan pembangunan atau devisa. Sungguh bencana tersebut adalah bencana yang terencana.

3.2.       Saran
Saran yang dapat disampaikan setelah pembahasan makalah ini adalah :
1. Kepada pemerintah agar meningkatkan manajemen bencana agar sedini  mungkin dapat diantisipasi terjadinya bencana alam di Indonesia.
2. Kepada masyarakat agar lebih menjaga lingkungan karena bagaimanapun bencana yang terjadi tidak terlepas dari kerusakan lingkungan.


DAFTAR PUSTAKA


      www.google.com (bencana alam Indonesia) . wikipedia








Tentang BRI

Bank Rakyat Indonesia

I.      SEJARAH BERDIRINYA PERUSAHAAN

Bank Rakyat Indonesia (BRI) adalah salah satu bank milik pemerintah yang terbesar Indonesia. Pada awalnya Bank Rakyat Indonesia didirikan di Purwokerto, Jawa Tengah oleh Raden Bei Aria Wirjaatmadja dengan nama Hulp-en Spaarbank der InlandscheBestuurs Ambtenaren atau Bank Bantuan dan Simpanan Milik Kaum Priyayi yang berkebangsaan Indonesia. Berdiri tanggal 16 Desember 1895, yang kemudian dijadikan sebagai hari kelahiran BRI. Pada periode setelah kemerdekaan RI, berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 1 tahun 1946 Pasal 1 disebutkan bahwa BRI adalah sebagai Bank Pemerintah pertama di Republik Indonesia. Pada masa perang mempertahankan kemerdekaan pada tahun 1948, kegiatan BRI sempat terhenti untuk sementara waktu dan baru mulai aktif kembali setelah perjanjian Renville pada tahun 1949 dengan berubah nama menjadi Bank Rakyat Indonesia Serikat. Pada waktu itu melalui PERPU No. 41 tahun 1960 dibentuk Bank Koperasi Tani dan Nelayan (BKTN) yang merupakan peleburan dari BRI,Bank Tani Nelayan dan Nederlandsche Maatschappij (NHM). Kemudian sesuai Penetapan Presiden (Penpres) No. 9 tahun 1965, BKTN diintegrasikan ke dalam Bank Indonesia dengan nama Bank Indonesia urusan Koperasi Tani dan Nelayan.

II.      UNDANG-UNDANG PEMBENTUKAN BANK

          Setelah berjalan selama satu bulan, keluar Penpres No. 17 tahun 1965 tentang  Pembentukan Bank Tunggal dengan nama Bank Negara Indonesia. Dalam ketentuan baru itu, Bank Indonesia Urusan Koperasi, Tani dan Nelayan ( eks BKTN ) diintegrasikan dengan nama Bank Negara Indonesia unit II bidang Rural, sedangkan NHM menjadi Bank Negara Indonesia unit II bidang Ekspor Impor (Exim).
       Berdasarkan Undang-Undang No. 14 tahun 1967 tentang Undang-undang Pokok Perbankan dan Undang-undang No. 13 tahun 1968 tentang Undang-undang Bank Sentral, yang intinya mengembalikan fungsi Bank Indonesia sebagai Bank Sentral dan Bank Negara Indonesia Unit II Bidang Rular dan Ekspor Impor dipisahkan masing-masing menjadi dua Bank yaitu Bank Rakyat Indonesia dan Bank Ekspor Impor Indonesia. Selanjutnya berdasarkan Undang-undang No. 21 tahun 1968 menetapkan kembali tugas-tugas pokok BRI sebagai Bank Umum.
       Sejak 1 Agustus 1992 berdasarkan Undang-Undang Perbankan No. 7 tahun 1992 dan Peraturan Pemerintah RI No. 21 tahun 1992 status BRI berubah menjadi Perseroan Terbatas.

III.      PELAYANAN DAN UNIT KERJA

Sampai sekarang PT. BRI (Persero) yang didirikan sejak tahun 1895 tetak konsisten memfokuskan pada pelayanan kepada masyarakat kecil, diantaranya dengan memberikan fasilitas kredit kepada golongan pengusaha kecil. Hal ini antara lain tercermin pada perkembangan penyaluran KUK ( Kredit Usaha Kecil ) pada tahun 1994 sebesar Rp. 6.419,8 milyar yang meningkat menjadi Rp. 8.231,1 milyar pada tahun 1995 dan pada tahun 1999 sampai dengan bulan September sebesar Rp. 20.466 milyar.
Seiring dengan perkembangan dunia Perbankan yang semakin pesat maka sampai saat ini Bank Rakyat Indonesia mempunyai unit kerja yang berjumlah 4.447 buah, yang terdiri dari 1 Kantor Pusat BRI, 12 Kantor Wilayah, 12 Kantor Inspeksi /SPI, 170 Kantor Cabang ( dalam negeri ), 145 Kantor Cabang Pembantu, 1 Kantor Cabang Khusus, 1 New York Agency, 1 Caymand Island Agency, 1 Kantor Perwakilan Hongkong, 40 Kantor Kas Bayar, 6 Kantor Mobil Bank, 193 P.POINT,3.705 BRI UNIT dan 357 Pos Pelayanan Desa.Kepemilikannya Bank Rakyat Indonesia (Persero) masih 100% ditangan Pemerintah Republik Indonesia.

IV.      VISI DAN MISI

       Setiap Perusahaan pasti memiliki Visi dan Misi. Begitu pula dengan PT. BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) Tbk.

VISI
       Menjadi Bank komersial terkemuka yang selalu mengutamakan kepuasan nasabah.

MISI
-         Melakukan kegiatan perbankan yang terbaik dengan mengutamakan pelayanan kepada usaha mikro, kecil dan menengah untuk menunjang peningkatan ekonomi masyarakat.
-         Memberikan pelayanan prima kepada nasabah melalui jaringan kerja yang tersebar luas dan didukung oleh sumber daya manusia yang professional.
-         Memberikan keuntungan dan manfaat yang optimal kepada stakeholders.
Sebagian dari Laporan Akhir / Makalah PSG tahun 2009



                                

Koperasi BAB III

ORGANISASI DAN MANAJEMEN


I.      Bentuk Organisasi

      a.      Menurut Hanel
Suatu sistem sosial ekonomi atau sosial teknik yang terbuka dan beriontasi pada tujuannya. Sub sistem koperasi:
1.      Individu (pemilik dan konsumen akhir)
2.      Pengusaha perorangan / kelompok (pemasok/supplier)
3.      Badan usaha yang melayani anggota dan masyarakat

      b.      Menurut Ropke
                  Bentuk Organisasi Koperasi memiliki identifikasi ciri khusus, yaitu :
1.      Kumpulan sejumlah individu dengan tujuan yang sama (kelompok koperasi)
2.      Kelompok usaha untuk perbaikan kondisi ekonomi (swadaya kelompok koperasi)
3.      Pemanfaatan koperasi secara bersama oleh anggota (perusahaan koperasi)
4.      Koperasi bertugas untuk menunjang kebutuhan para anggotanya
     (penyediaan barang dan jasa).

                  dan Sub Sistem koperasi Menurut Ropke, sebagai berikut :
1.      Anggota koperasi
2.      Badan Usaha Koperasi
3.      Organisasi Koperasi
    
      c.       Di Indonesia
               Di Indonesia bentuk organisasi meliputi ; rapat anggota, pengurus, pengelola, dan              pengawasan

·   Rapat Anggota,
      1. Wadah anggota untuk menngambil keputusan
      2. Pemegang kekusaaan tertinggi, dengan tugas:
                  a. Penetapan Anggaran Dasar
                  b. Kebijaksanaan  Umum (manajemen, organisasi & usaha koperasi)
                  c. Pemilihan, pengangkatan & pemberhetian pengurus
                  d. Rencana kerja, rencana Budget dan pendapatan serta pengesahan laporan keuangan
                  e. Pengesahan pertanggung jawaban
                  f. Pembagian SHU
                  g. Penggambungan, pendirian dan peleburan

·  Hirarki Tanggung  Jawab
        1.  Pengurus
             · Tugas                                                              · Wewenang
            - Mengelola koperasi dan usahanya              - Mewakili koperasi di dalam dan luar
            - Mengajukan rancangan rencana kerja,        pengadilan
                  budget dan belanja koperasi                       - Meningkatkan peran koperasi
               - Mengajukan laporan keuangan &    
                  pertanggung jawaban
      - Maintenance daftar anggota dan pengurus

2.  Pengelola
·        Karyawan / pegawai yang diberikan kuasa & wewenang oleh pengurus
·        Untuk mengembangkan usaha dengan efisien & professional
·        Hubungannya dengan pengurus bersifat kontrak kerja
·        Diangkat & diberhentikan oleh pengurus

3.  Pengawasan
·        Perangkat organisasi yang dipilih dari anggota dan diberi mandate untuk melakukan pengawasan terhadap jalannya organisasi & usaha koperasi
·        UU 25 Th. 1992 pasal 39:
                  -  Bertugas untuk melakukan pengawasan kebijakan dan pengelolaan koperasi
                  -  Berwenang untuk meneliti catatan yang ada & mendapatkan segala keterangan yang                                                                    diperlukan.

II.      Pola Manajemen
            Menurut Paul Hubert : “Cooperation is economic system with social cintent” artinya koperasi harus bekerja menurut prinsip – prinsip ekonomi dengan melandaskan pada azas – azas koperasi yang mengandung unsur – unsur sosial di dalamnya.

            Unsur sosial yang terkandung dapat kita lihat dalam :

      -  Kesamaan derajat yang diwujudkan dalam “one man one vote” dan “one voting by    proxy
      -  Kesukarelaan dalam keanggotaan
      -  Menolong diri sendiri (self help)
      -  Persaudaraan / keuangan (fraternity & unity)


Referensi