Rabu, 17 Oktober 2012

KARANGAN ILMIAH (jenis, macam, bentuk, kerangka, pengertian)



Karangan merupakan karya tulis hasil dari kegiatan seseorang untuk mengungkapkan gagasan dan menyampaikanya melalui bahasa tulis kepada pembaca untuk dipahami. Lima jenis karangan yang umum dijumpai dalam keseharian adalah narasi, deskripsi, eksposisi, argumentasi, dan persuasi.

KARYA ILMIAH ..
·    Brotowidjoyo menjelaskan karangan ilmiah adalah karangan ilmu pengetahuan yang menyajikan fakta dan ditulis menurut metodologi penulisan yang baik dan benar.

·    Karya ilmiah dapat juga berarti tulisan yang didasari oleh hasil pengamatan, peninjauan, penelitian dalam bidang tertentu, disusun menurut metode tertentu dengan sistematika penulisan yang bersantun bahasa dan isinya dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya/keilmiahannya (Susilo, M. Eko, 1995:11).

·        Karya ilmiah merupakan karya tulis ilmu pengetahuan alam kodrat (natural sciences). Yang ditulis berdasarkan fakta umum, dapat dibuktikan secara fisik, dapat dilihat, didengar, dan bersifat konkrit.

·      Karya ilmiah merupakan karya tulis ilmu pengetahuan sosial (social sciences). Yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya secara fisik dan bersifat abstrak.

·        Karya ilmiah merupakan karya tulis ilmu pengetahuan humaniora. Yang ditulis berdasarkan perasaan dan logika, serta tidak perlu adanya bukti empiris.

TUJUAN PEMBUATAN KARANGAN ILMIAH :
·        Memberikan penjelasan
·        Memberikan komentar atau penilaian
·        Memberikan saran
·        Menyampaikan sanggahan
·        Membuktikan hipotesa
·        Menyampaikan ide
·        Melatih kemampuan menulis
·        Eksistensi
·        Tugas akhir

BENTUK KARYA ILMIAH :
Dalam karya ilmiah dikenal antara lain berbentuk makalah, report atau laporan ilmiah yang dibukukan, dan buku ilmiah.

1. Karya Ilmiah Berbentuk Makalah
Makalah pada umumnya disusun untuk penulisan didalam publikasi ilmiah, misalnya jurnal ilmu pengetahuan, proceeding untuk seminar bulletin, atau majalah ilmu pengetahuan dan sebagainya. Maka ciri pokok makalah adalah singkat, hanya pokok-pokok saja dan tanpa daftar isi.

2. Karya Ilmiah Berbentuk Report/ Laporan Ilmiah Yang Dibukukan
Karya ilmiah jenis ini biasanya ditulis untuk melaporkan hasil-hasil penelitian, observasi, atau survey yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok orang. Laporan ilmiah yang menjadi persyaratan akademis di perguruan tinggi biasanya disebut Skripsi, yang biasanya dijadikan persyaratan untuk karya ilmiah jenjang S1, Tesis untuk jenjang S2, dan Disertasi untuk jenjang S3.

3. Buku Ilmiah
Buku ilmiah adalah karya ilmiah yang tersusun dan tercetak dalam bentuk buku oleh sebuah penerbit buku umum untuk dijual secara komersial di pasaran. Buku ilmiah dapat berisi pelajaran khusus sampai ilmu pengetahuan umum yang lain.

CIRI-CIRI KARYA ILMIAH :
1.       Objektif
Setiap pernyataan atau simpulan yang disampaikan berdasarkan bukti-bukti yang bisa dipertanggungjawabkan. Menyajikan fakta objektif secara sistematik atau menyajikan aplikasi hukum alam pada situasi spesifik.

2.       Netral
Setiap pernyataan atau penilaian bebas dari kepentingan-kepentingan tertentu baik kepentingan pribadi maupun kelompok. Pernyataan bersifat mengajak, membujuk, atau mempengaruhi pembaca.

3.       Sistematik
Setiap langkah direncanakan secara sistematis terkendali, secara konseptual dan prosedural. Mengikuti pola pengembangan seperti pola urutan, klasifikasi, dan kausalitas. 

4.       Tidak Pleonastis
Kata-kata yang digunakan tidak berlebihan, hemat, tidak berbelit-belit, tidak didasarkan atas motif mementingkan diri sendiri yang dapat menyebabkan kehancuran tujuan penulisan.

5.       Struktur Sajian
Struktur sajian karya ilmiah sangat ketat, biasanya terdiri dari bagian awal (pendahuluan) yang merupakan pengantar ke bagian inti, bagian inti (pokok pembahasan), dan bagian penutup yang merupakan kesimpulan pokok pembahasan serta rekomendasi penulis tentang tindak lanjut gagasan tersebut.

6.       Komponen dan Substansi
Komponen karya ilmiah bervariasi sesuai dengan jenisnya, namun semua karya ilmiah mengandung pendahuluan, bagian inti, penutup, dan daftar pustaka. Artikel ilmiah yang dimuat dalam jurnal mempersyaratkan adanya abstrak.

7.       Penggunaan Bahasa
Bahasa yang digunakan adalah bahasa naku yang tercermin dari pilihan kata atau istilah, dan kalimat-kalimat yang efektif dengan struktur yang baku, tidak boleh mengemukakan gejolak perasaan. Dianjurkan pula untuk menggunakan gaya bahasa metafora, hiperbola, ilusi, ironi, dan lain-lain.
Tetapi, harus menggunakan bahasa yang sederhana dan lugas. Harus terus mengacu kepada hal-hal yang bersifat objektif, meyakinkan, dan bermodus indikatif.

MACAM-MACAM KARYA ILMIAH :
a.  Skirpsi
Karya tulis ilmiah yang dibuat oleh mahasiswa untuk melengkapi syarat mendapatkan gelar sarjana (S1). Ditulis berdasarkan pendapat (teori) orang lain. Skripsi menuntut kecermatan metodologis hingga menggaransi ke arah sumbangan material berupa penemuan baru.

b.  Tesis
Jenis karya tulis dari hasil studi sistematis atas masalah. Mengandung metode pengumpulan, analisis dan pengolahan data, serta menyajikan kesimpulan dan mengajukan rekomendasi. Bersifat argumentative dan dihasilkan dari suatu proses penelitian yang memiliki bobot orisinalitas tertentu. Dan merupakan tulisan ilmiah untuk mendapatkan gelar akademik strata dua (S2), yaitu Master

c.  Disertasi
Karya tulis ilmiah resmi akhir bagi mahasiswa dalam menyelesaikan program S3 ilmu pendidikan.

d.  Surat Pembaca
Surat yang berisi kritik dan tanggapan terhadap isi suatu tulisan ilmiah.

e.  Resensi
Merupakan tanggapan terhadap suatu karangan atau buku yang memaparkan manfaat karangan atau buku tersebut bagi pembacanya.


f.  Monograf
Adalah karya asli menyeluruh dari suatu masalah. Monograf ini dapat berupa tesis ataupun disertasi.

g.  Kabilitasi
Adalah karangan-karangan penting yang dikerjakan sarjana Departemen Pendidikan Nasional untuk bahan kuliah.

KERANGKA MAKALAH ILMIAH

·        Judul makalah
·        Nama penulis (author) dan penulis penyerta (co-author)
·        Nama institusi penulis bekerja
·        Ringakasan atau “abstract”
·        Pendahuluan atau Indtroduksi
·        Bahan dan cara atau “Metodologi” atau “Metoda Penelitian”
·        Hasil
·        Pembahasan
·        Kesimpulan
·        Daftar rujukan (referensi)






RESENSI



Senin, 15 Oktober 2012

Bahasa Indonesia (Paragraf)



PARAGRAF DEDUKTIF

·        Paragraf deduktif merupakan paragraph yang mengetengahkan fakta umum kemudian fakta khusus.
·        Paragraf yang kalimat utamanya terletak pada awal paragraf
·   Paragraf yang dimulai dengan mengemukakan persoalan pokok atau kalimat topik kemudian diikuti dengan kalimat-kalimat penjelas.

Ciri paragraph deduktif :
§      Terlebih dahulu menyebutkan peristiwa-peristiwa yang bersifat umum.
§        Kemudian menyebutkan peristiwa-peristiwa khusus.
§        Simpulan terdapat di awal paragraf.

Jenis paragraf deduktif :

1.      Silogisme
·        Menarik simpulan khusus berdasarkan premis mayor dan minor.
·  Suatu proses penarikan kesimpulan secara deduktif. Silogisme disusun dari dua proposisi (pernyataan) dan sebuah konklusi (kesimpulan).

Berdasarkan bentuknya, silogisme dibagi menjadi ;

o   Silogisme Kategorial : Silogisme yang semua proposisinya merupakan kategorial. Proposisi yang mendukung silogisme disebut dengan premis yang kemudian dapat dibedakan menjadi premis mayor (premis yang termnya menjadi predikat), dan premis minor ( premis yang termnya menjadi subjek). Yang menghubungkan di antara kedua premis tersebut adalah term penengah (middle term). 

o       Silogisme hipotetik adalah argumen yang premis mayornya berupa proposisi hipotetik, sedangkan premis minornya adalah proposisi katagorik

o       Silogisme alternatif adalah silogisme yang terdiri atas premis mayor berupa proposisi alternatif. Proposisi alternatif yaitu bila premis minornya membenarkan salah satu alternatifnya. Kesimpulannya akan menolak alternatif yang lain.

2.    Entimen
·        Penalaran deduksi langsung
·        Silogisme ini jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam tulisan maupun lisan. Yang dikemukakan hanya premis minor dan kesimpulan.
·        Silogisme yang dipendekkan










REFERENSI:

Senin, 08 Oktober 2012

Bahasa Indonesia



 
Penalaran Induktif


Pendekatan induktif melibatkan aktivitasi mengumpulkan dan menafsirkan maklumat-maklumat, kemudian membuat generalisasi atau kesimpulannya. Kaedah induktif yang berlandaskan pendekatannya, merupakan salah satu kaedah mengajar yang sesuai dan digunakan dalam pengajaran berbagai mata pelajaran, khususnya matematik, sains dan bahasa.
Dalam paragraph, berdasarkan letak kalimat utamanya. Paragraf Induktif adalah paragraf yang dimulai dengan mengemukakan penjelasan-penjelasan kemudian diakhiri dengan kalimat topik. Paragraf induktif dapat dibagi ke dalam tiga jenis, yaitu generalisasi, analogi, dan kausalitas.
1. Generalisasi adalah suatu proses penalaran yang bertolak dari sejumlah fenomena individual (khusus) menuju kesimpulan umum yang mengikat seluruh fenomena sejenis dengan fenomena individual yang diselidiki atau pola pengembangan paragraf yang menggunakan beberapa fakta khusus untuk mendapatkan kesimpulan yang bersifat umum. Macam-macam generalisasi yaitu Generalisasi Sempurna dan Generalisasi Tidak Sempurna

2. Analogi adalah pola penyusunan paragraf yang berisi perbandingan dua hal yang memiliki sifat sama. Pola ini berdasarkan anggapan bahwa jika sudah ada persamaan dalam berbagai segi maka akan ada persamaan pula dalam bidang yang lain. Atau dapat dikatakan sebagai penalaran induktif dengan membandingkan dua hal yang banyak persamaannya.


3.     Hubungan Kausal adalah pola penyusunan paragraf dengan menggunakan fakta-fakta yang memiliki pola hubungan sebab-akibat. Paragraf yang dimulai dengan mengemukakan fakta khusus yang menjadi sebab, dan sampai pada simpulan yang menjadi akibat Ada tiga pola hubungan kausalitas, yaitu sebab-akibat, akibat-sebab, dan sebab-akibat 1 akibat 2.

REFERENSI:









Selasa, 02 Oktober 2012

Akuntansi Perbankan


Konsep Dasar Akuntansi Keuangan

  1.      Asas Going Concern (Kesinambungan)
Going Concern adalah kesinambungan , artinya bahwa perusahaann sebagai alat dari badan usaha dalam  mencari laba , diasumsikan akan terus berkelanjutan dalam menjalankan usahanya. Jadi perusahaan tidak hanya sekali proses namun terus berproses secara berkesinambungan.
Asumsi kelangsungan usaha ini maksudnya dalam menyusun atau memahami financial statement harus dianggap bahwa perusahaan yang dilaporkan akan terus beroperasi di masa yang akan datang, tidak ada sama sekali asumsi bahwa perusahaan akan bubar. Nilai kekayaan perusahaan dianggap hidup terus atau going concern tidak akan sama dengan nilai kekayaan perusahaan yang akan dilikuidasi

  2.      Business Entity (Entitas atau kesatuan usaha)
Merupakan Konsep Dasar Akuntansi Menurut Paton dan Littleton. Bahwa perusahaan dianggap sebagai suatu  kesatuan atau badan usaha ekonomik yang berdiri sendiri, bertindak atas namanya sendiri, dan kedudukannya terpisah dari pemilik atau pihak lain yang menanamkan dana dalam  perusahaan dan kesatuan ekonomik tersebut menjadi pusat perhatian atau sudut pandang akuntansi.

  3.      Periode Akuntansi
Kegiatan perusahaan dipisahkan dalam periode-periode. Penyajian informasi berupa laporan keuangan dibuat secara berkala akan membantu pihak yang berkepentingan dalam mengambil suatu keputusan. Misalnya per tahun, triwulan atau semesteran.
Laporan keuangan (financial statement) menyajikan informasi untuk suatu tanggal tertentu (seperti balance sheet) dan priode waktu tertentu ( seperti: income statement, changes of capital statement, retained earning statement, dan  cashflows statement)

  4.      Unit Moneter
Unit moneter artinya satuan uang seperti di Indonesia adalah rupiah (Rp).Akuntansi menggunakan unit moneter sebagai alat pengukur suatu objek atau aktivitas perusahaan dan menganggapbahwa nilai uang itu stabil dari waktu ke waktu. Konsep unit moneter menghendaki bahwa yang dicatat oleh akuntansi hanyalah data transaksi yang dapat dinyatakan dalam satuan moneter.

  5.      Historical Cost (Biaya Historis)
Dalam menentukan jumlah yang haruis dicatat dan dilaporkan mengenai berbagai macam aktiva dan utang perusahaan menggunakan prinsip biaya historis atau harga perolehan kebaikan dan metode ini adalah adanya unsur kepastian, sedangkan kelemahannya adalah jika tingkat harga mengalami perubahan, sehingga tidak dapat dibandingkan dengan yang berlaku pada periode berikutnya.

  6.      Matching (Penanding)
Untuk menentukan laba yang tepat dan obyektif, pendapatan hendaknya dikurangi dengan biaya yang dianggap telah menghasilkan pendapat tersebut. Matching konsep diperlukan karena:
  • Penentuan income secara berkala.
  • Transaksi mengenai revenue dan expenses dilaporkan secara terpisah.
  • Saat penggunaan barang dan jasa biasanya tidak bersamaan dengan saat penjualan produk perusahaan.
Pencatatan matching concept ada 2 golongan :
  • Direct (product) matching: cost diakui sebagai expenses pada saat revenue direalisasikan/diakui, penghubung antara cost barang dan jasa yang digunakan daqlam waktu pelaporan revenue yang berkaitan.
  • Indirect (period) matching: cost diakui sebagai expenses bukan pada saat revenue direalisasi/diakui terapi pada saat cost tersebut digunakan pada periode yang bersangkutan (pelaporan exepeses dalam periode barang dan jasa dipakai bukan dalam periode revenue yang bersangkutan diakui)

  7.      Konsistensi (Consistency)
Bahwa kalau tidak ada penjelasan atau keterangan yang menyatakan sebaliknya, akuntansi menganggap bahwa laporan keuangan disusun berdasarkan prinsip, standar, metode atau praktik yang sama dengan tahun sebelumnya. Menyatakan bahwa peristiwa peristiwa serupa harus dicatat dan dilaporkan dengan cara yang konsisten dari periode ke periode.

  8.      Objektivitas
Bahwa informasi keuangan akan mempunyai tingkat kebermanfaatan dan tingkat keterandalan yang cukup tinggi apabila terjadinya data keuangan didukung oleh bukti-bukti yang objektif dan dapat diuji kebenarannya (keabsahannya/keautetikannya).
Objektivitas bukti harus dievaluasi atas dasar kondisi yang melingkupi penciptaan, pengukuran, dan penangkapan atau pengakuan data akuntansi. Jadi, akuntansi tidak mendasarkan diri pada objektivitas mutlak melainkan pada objektivitas relatif yaitu objektivitas yang paling tinggi pada waktu transaksi terjadi dengan mempertimbangkan keadaan dan tersedianya informasi pada waktu tersebut.

  9.      Materiality (Materialitas)
Bahwa akuntansi hanya melaporkan atau berkepentingan dengan informasi keuangan yang dianggap material (penting) dalam hubungannya dengan pengambilan keputusan.

  10.  Conservatism (Konservatisme)
Bahwa dalam keadaan ketidak pastian , akuntasi akan menentukan pilihan perlakuan atau tindakan akuntasi yang didasarkan pada keadaan, harapan kejadian, atau hasil yang dianggap kurang menguntungkan

  11.  Transparansi
Dalam penyajian laporan keuangan harus jelas sehingga tidak ada keraguan dalam penggunaannya.